Rabu, 07 Oktober 2015

Kenapa Orang Kaya Makin Kaya dan yang Gajinya Pas-pasan tetap Stagnan?





Sejumlah survei di berbagai negara mengkonfirmasi fakta yang muram ini : kesenjangan sosial antara orang kaya dengan yang penghasilannya pas-pasan kian melebar.
Yang penghasilannya pas-pasan memang tetap mengalami kenaikan income. Namun laju kenaikan income-nya jauh dibawah lapisan orang kaya. Di Amerika misalnya, laju kenaikan income orang kaya 20 kali lipat lebih tinggi dibanding laju kenaikan income orang yang gajinya pas-pasan.
Di tanah air, mungkin terjadi fenomena yang serupa. Laju kenaikan income orang kaya lebih dramatis dibanding yang penghasilannya pas-pasan.
Kenapa fenomena yang muram itu bisa terjadi?
Faktanya, rasio Gini di tanah air menunjukkan angka yang kian melebar. Indeks atau Rasio Gini adalah indeks yang lazim digunakan untuk menunjukkan tingkat kesenjangan antara pendapatan orang kaya dengan orang miskin.
Pertanyaannya : kenapa laju kenaikan pendapatan orang kaya jauh lebih cepat dibanding laju kenaikan pendapatan orang yang gajinya pas-pasan?
Tiga faktor berikut bisa memberikan penjelasan yang layak direnungkan. Tiga faktor yang juga menjelaskan misteri tentang The Science of Wealth.
Faktor # 1 : Kerusakan Sel Otak. Seperti yang pernah saya tulis dua minggu lalu, sebuah studi memunculkan fakta yang kelam : orang yang penghasilannya pas-pasan dalam jangka panjang otaknya mengalami erosi. Otaknya menjadi tulalit dan mengalami degradasi. Kecakapan otaknya menjadi kian menurun.
Kenapa begitu? Karena setiap waktu pikiran mereka dibayangi stress dan kecemasan tentang kondisi finansial yang serba terbatas (gaji cepat habis, padahal cicilan banyak yang belum lunas, sementara harga terus naik gara-gara rupiah kolaps).
Kecemasan yang berkepanjangan tentang gaji yang serba terbatas, menimbulkan beban yang melukai katajaman otaknya untuk berpikir kreatif mengubah nasib. Alhasil nasib hidupnya menjadi stagnan.
Orang kaya yang penghasilannya 30 atau bahkan 50 juta per bulan, mungkin tidak mengalami kecemasan itu. Ia jarang dilanda kecemasan tentang biaya hidup yang kian selangit atau harga rumah yang makin tidak terjangkau. Sebab income-nya lebih dari memadai untuk membiayai hidupnya dan keluarga.
Karena otaknya tidak pernah dilanda kecemasan akibat kondisi keuangan yang terbatas, maka sel-sel otak orang kaya menjadi lebih cekatan dalam menjemput peluang.
Faktanya, studi yang dilakukan tim peneliti dari Princeton menemukan data : orang yang penghasilannya melimpah memang memiliki skor lebih tinggi saat dihadapkan pada beragam tes kognitif (dibanding orang dengan penghasilan pas-pasan).
Faktor # 2 : Efek Bola Salju Kekayaan. Ini adalah faktor yang amat krusial dalam menjelaskan kesuksesan seseorang.
Orang yang kaya dan sukses secara psikologis merasa telah menemukan “major wins” : sebuah pilar yang amat penting untuk memotivasi seseorang untuk meraih sukses yang lebih tinggi.
Studi psikologis menemukan fakta : rentetan major wins (yang bentuknya antara lain adalah kenaikan income secara signifikan atau penghasilan yang kian melimpah) adalah pemicu motivasi yang kuat untuk mendorong orang agar bekerja makin gigih.
Disitulah momentum bola salju kekayaan tercipta : orang yang penghasilannya sudah melimpah merasa mendapat major win yang berharga >> dan karena itu makin percaya diri dan makin optimis >> dan karena itu kemudian makin gigih berusaha >> dan karena makin gigih bekerja maka laju kekayaannya kian melesat.
Pengalaman nyata memang kerap menunjukkan hal seperti itu : orang yang sudah kaya dan sukses, justru makin antusias, optimis dan bersemangat menjalani hidup. Major win yang telah mereka raih menjadi pilar motivasi yang kokoh untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi.
Itulah yang disebut dengan “efek bola salju kekayaan” : dan inilah fenomena yang bisa menjelaskan kenapa orang kaya makin kaya, dan acap dengan laju kenaikan pendapatan yang makin cepat.
Sebaliknya : orang dengan penghasilan pas-pasan secara psikologis sulit memotivasi dirinya untuk menapak jalan hidup yang lebih mapan. Kenapa? Ya karena dia merasa belum bisa menemukan “major wins” yang bisa memotivasi dirinya.
Ia malah kadang makin pesimis menghadapi hidup, demi melihat kondisi keuangannya yang serba terbatas. Sikap pemimis yang kadang berubah menjadi nyinyir saat melihat kesuksesan orang lain yang sudah kaya.
Rasa galau, pesimis, dan ragu-ragu dalam melangkah terjadi karena dia memang belum pernah menemukan major wins yang menjadi bukti bahwa dirinya sanggup meraih kesuksesan. Ia belum punya jejak kesuksesan yang proven dan bisa dijadikan evidence untuk memotivasi dirinya.
Yang terjadi kemudian adalah “efek bola salju kemiskinan” : hidup dengan gaji pas-pasan >> lalu merasa pesimis dengan masa depan >> lalu tidak punya rasa percaya diri untuk take action demi mengubah nasib >> lalu nasib hidupnya menjadi stagnan dan makin terpuruk dalam kondisi keuangan yang serba terbatas (cicilan hutang masih banyak, tidak sanggup membeli rumah sendiri, dan apalagi memberangkatkan orang tuanya umroh).
Komponen major wins menjadi elemen kunci yang memotivasi orang kaya untuk makin kaya. Ketiadaan major wins menjadi elemen yang men-demotivasi orang dengan income pas-pasan sehingga terus hidup dalam stagnasi.
Faktor # 3 : Keajaiban Investasi. Orang dengan income hingga 50 juta per bulan atau lebih, hampir selalu punya dana memadai untuk disisihkan buat investasi : membeli reksadana, emas atau tanah dan properti.
Investasi itu kadang ditempatkan dalam “aset tetap yang produktif” : ruko yang bisa disewakan, apartemen yang bisa dikontrakkan, atau tanah yang harganya terus naik setiap tahun.
Kadang, return atau juga passive income dari hasil investasi aset aktif ini bisa melebihi gaji kebanyakan karyawan.
Disitulah prinsip kekayaan terjadi : biarkan uang (yang diinvestasikan) yang bekerja keras untuk Anda (lalu memberikan capital gain atau apresiasi kenaikan harga yang signifikan).
Dan bukan kita yang kerja keras mengejar uang — yang kadang jumlahnya juga tak banyak, karena pas tanggal 20 sudah habis buat bayar aneka cicilan, termasuk cicilan kredit Honda Vario yang belum lunas.
Hasil investasi yang mak nyus tadi sering di-investasikan kembali oleh pemiliknya; sehingga tercipta akumulasi kekayaan yang akseleratif. Itulah kenapa laju kenaikan total income lapisan orang kaya bisa terus melesat.
Sebaliknya, orang dengan penghasilan pas-pasan mungkin tidak lagi punya sisa uang untuk diinvestasikan. Boro-boro investasi beli tanah, emas atau reksadana; bahkan untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari saja, kadang tidak cukup.
DEMIKIANLAH, tiga faktor yang mungkin bisa menjelaskan kenapa laju kenaikan income orang kaya bisa makin cepat; sementara laju kenaikan income orang dengan gaji pas-pasan tetap stagnan.
Alhasil, yang kaya makin kaya, dan yang nasibnya stagnan tetap akan terpuruk dalam duka dan nestapa.
Lalu harus bagaimana?
Kita tidak bisa menyalahkan kesenjangan sosial yang kian tajam ini kepada pihak pemerintah, kapitalisme global, konspirasi wahyudi atau blah-blah lainnya.
Daripada buang-buang energi negatif untuk ngomel-ngomel tentang kesenjangan sosial, jauh lebih baik kita berusaha dengan gigih agar juga mendapat limpahan rezeki yang barokah (agar bisa menjadi kaya dan sanggup menyekolahkan ratusan anak yatim, atau juga membelikan rumah yang asri buat kedua orang tua).
Sebab memang Anda sendirilah yang menentukan nasib dan masa depan Anda. Bukan atasan, bos, pemilik perusahaan, pihak pemerintah, atau Nyi Roro Kidul.
Copas dari sebelah http://strategimanajemen.net

Akhirnya Bisa Menulis lagi...

Tahun 2012 terakhir kali saya membuat coretan di blog ini, setelah itu masuk tahun 2013 dengan ritme yang jauuuh berbeda karena pindah tugas, Tadinya di Batam dan pulau sekitarnya trus pindah ke Kota Jambi.
Di tempat yang baru dengan pekerjaan yang baru juga otomatis menyita banyak waktu.
Bagi saya pekerjaan di tempat baru di jambi 'pas' dengan fashion saya, kerja office hour dan Mobile ngurusin area di 2 Provinsi dari Grissik sampai Pelabuhan dagang juga sampai ke Jabung juga. Bagian yang di urusin pun saya suka dengan urusan Metering/billing Gas.

Dengan tempat yang baru dan 'style' yang baru juga akhirnya saya 'all out' untuk pekerjaan ditambah bercengkerama bersama keluarga, ga sempat lagi mau nulis atau berkarya yang agak jauh dari kedua itu..

Naahh, sejak 3 bulan terkahir saya ditugaskan di Kota Semarang Jawa Tengah, disini mengawal misi negara untuk memenuhi kebutuhan listrik pulau Jawa, bagian saya sebenernya ngurusin Gas nya. Asal gas dari Blok Muriah di kepodang yang di explore oleh Petronas Carigali Muriah Ltd kemudian di transmisikan melalui pipa bawah laut sepanjang 200 km lebih menuju Tambak Lorok Semarang. Transmisi gas ini dimiliki oleh PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) yang sahamnya join antara Gas Negara dengan group Bakrie.

Awal-awal tugas memang sibuk dan banyak tantangan karena masa project & commissioning, makin kesini ada waktu dan pada akhirnya keingat sama blog 'NUSAJAWARA' dan mulai menuliskan sedikit sejarah..

Sampai disini dulu nanti diisi dengan tema bebas hehehe..


Semarang, 07 Oktober 2015

Sabtu, 08 September 2012

Lika-liku Mendirikan Perusahaan Comanditer (CV)


Dengan alasan ‘klasik’ sedikit sibuk, sudah beberapa bulan tidak menulis dan kali ini mulai berkarya lagi…
Dalam dunia bisnis banyak sekali peluang usaha yang bisa dikembangkan, sebut saja usaha pertanian dan perkebunan, Pabrik/Manufaktur, MIGAS, perdagangan dan jasa. Dari sekian banyak terkadang orang bingung untuk menentukan buka usaha di sector apa… ada yang mencoba usaha ikut-ikutan trend, ada juga yang ikut Franchise yang ‘katanya’ sangat menguntungkan dan tidak repot. Dalam kenyataannya ada yang berhasil dan banyak juga yang kurang…  ok untuk sementara bahasannya cukup sampai disitu karena kita akan membahas Lika-liku mendirikan CV.
CV atau PT adalah salah satu syarat formal untuk berdirinya sebuah badan hukum perusahaan. CV akan berdiri jika sudah ada akta dari notaris, surat keterangan domisili perusahaan dan surat iji. Bagaimana jika sebuah CV memiliki Banyak Unit bisnis?? Dalam akta pendirian biasanya disebutkan  banyak sekali bidang usahanya tetapi itu secara global, Untuk khususnya adalah surat ijin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah atau asosiasi berupa SIUP, SIUJK, AKLI dll. Contoh : Jika sebuah CV ingin bergerak di bidang perdagangan maka minimal badan usahanya memiliki SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan). Apakah itu sudah cukup? Ya sudah memenuhi syarat. Bagaimana jika CV tersebut ingin mengikuti tender-tender jasa konstruksi dari pemerintah? Syaratnya musti ditambah dengan SIUJK (Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi) yang pengurusannya musti sampai ke tingkat Provinsi.
Sebelum maju dalam mengurus pendirian CV kita musti menentukan usaha yang akan dijalankan karena adanya CV hanya sebagai badan hukum/legalitas saja, Goalnya adalah bagaimana cara mengembangkan perusahaan itu sendiri, dasarnya adalah tertib administrasi, kreatifitas, keberanian dan modal dari pengelola.
Syarat mendirikan CV di Batam :
  1.   Minimal didirikan oleh 2 orang dengan posisi sebagai Direktur Utama dan Komisaris
  2.  KTP dan NPWP kedua pendiri
  3.  Sertifikat atau keterangan kontrak tempat usaha
  4.  Pas photo direktur sekitar 10 lb
  5.  Surat keterangan dari RT dan RW
  6.  Kop surat dan cap perusahaan
Pendirian di Batam tergolong gampang-gampang susah, mengapa demikian karena kita mendirikannya tidak musti beralamat di kawasan bisnis atau ruko tetapi alamat rumah di komplek pun boleh, lebih mudah dari DKI Jakarta khan... Untuk pengurusan surat Keterangan domisili  Pegawai kelurahan akan inspeksi langsung ke alamat dengan tujuan untuk memastikan apakah betul ada tempat usaha atau tidak.. Menurut saya ini langkah pemerintah yang bagus untuk menghindari berdirinya badan usaha fiktif.
Kemudian untuk pengurusan Perpajakan, SIUP hingga pendaftaran ke Pengadilan bisa kita wakilkan dengan Notaris saja.
Kendala yang kami alami dalam pendirian badan usaha ini adalah birokrasi masih belum bersahabat dengan pengusaha itu saja…. Harapannya smoga Pemerintah lebih sungguh-sungguh dalam mensupport dunia usaha..


CV. DAMARA INDONESIA